Mahasiswa Dan Relevansi Agama Dalam Spiritalisme

Dalam forum kajian sains dan teknologi pertama yang dilakukan Studia Humanika, kami sempat menyinggung masalah “bagaimana mahasiswa akan tertarik membicarakan soal relasi sains dengan agama” jika mereka juga tak tertarik untuk mengelaborasi dan mendalami sains itu sendiri. Terlalu jauh kalau kami langsung mengajak mereka ke dalam wacana seperti itu. Saya sendiri meminta agar dalam forum ini kita bisa mengelaborasi dulu secara bebas dan mendasar ihwal sains, dan tidak perlu merasa dibebani dulu harus bicara ‘sains Islami’.

Dalam forum itu muncul contoh: kebanyakan muslim akan menolak teori evolusi, padahal, jika teori evolusi dihilangkan, maka pijakan ilmu biologi pun hilang dan ilmu itu akan runtuh. Sama seperti orang menolak psikoanalisis karena dinilai tidak Islami, semata karena Freud itu ateis, padahal ketaksadaran yang dikemukakan oleh Freud itu menjungkirbalikkan subjek cogito Cartesian yang telah bercokol selama berabad-abad, dan penolakan itu bisa meruntuhkan konstruksi ilmu psikologi juga.

Saya sendiri mengajukan pendapat bahwa salah satu akar masalahnya adalah karena sains pun tidak dikuasai dan dipahami secara mendasar, sedangkan Islam pun hanya dipahami luarannya saja, bahkan seringkali cuma dijadikan keset bagi pemikiran dan wacana teoretik Barat. Islam tak pernah disentuh hingga dimensi esoteriknya yang banyak dibuka oleh para sufi.

Akibatnya, pembicaraan soal Islam pun cuma sebatas spekulasi nalar dan nyinyir urusan fisik, serta tak ada sama sekali khazanah spiritual yang justru menjadi penopang utama agamanya. Umat muslim berpendidikan jadi lebih mudah merasa inferior, lalu terpukau pada wacana teoretik Barat, untuk kemudian memandang irasional khazanah spiritual Islam.

Dan hal yang mencengangkan adalah, Ikbal, doktor dan dosen astronomi ITB, menceritakan ihwal kenapa geosentris tetap dipakai dalam tradisi intelektual Islam, khususnya para sufi, meski mereka pun tahu soal heliosentris. Dan itu terkait dengan pohon ilmu.

Saya sendiri mengemukakan satu contoh yang lazim di kalangan mahasiswa dan dosen ITB, yaitu fenomena skizofrenia kultural.

Misalnya, sebagai mahasiswa fisika, harus diterima bahwa kecepatan tertinggi adalah kecepatan cahaya. Segala hal terkait sesuatu di atas kecepatan cahaya masih berupa spekulasi matematik.

Namun, setelah keluar dari ruangan kuliah, mereka pergi ke Masjid Salman untuk mempersiapkan acara Isra Mi’raj, suatu perjalanan lintas alam (yang masih juga diperdebatkan: apakah memang ada realitas lain selain realitas fisik ini?) dan suatu perjalanan di atas kecepatan cahaya (?).